Ditulis pada tanggal 13 Maret 2014, oleh admin, pada kategori Berita

KITA BELUM MEMBUTUHKAN REVOLUSI BUDAYA: Kilas balik FPIK menjadi Jura Umum PKM-MABA pada ajang Rektor Cup 2014

Oleh: Wiadnya & Vian

Sukandar ialah dosen FPIK yang melakukan gebrakan kecil, mempersiapkan MABA FPIK dalam lomba PKM Rektor Cup 2014. Dia memediasi beberapa mahasiswa senior dan dosen muda gila (gila = dosen kritis, creative, orientasi ke depan, dan menyukai gagasan baru) untuk menguji, memberi kritisi, dan memicu gagasan-gagasan unik yang disampaikan mahasiswa baru. Pada tahap pertama, senior memilih 30 proposal dari beragam pra-proposal yang diajukan oleh MABA. Pada tahap kedua, masing-masing kelompok dari 30 proposal PKM dipapar dan diseleksi melalui presentasi dihadapan Tim dosen – Tim dosen memilih 14 proposal yang dianggap layak untuk mewakili FPIK pada Rektor Cup 2014. Masing-masing kelompok dari 14 yang terpilih harus melewati 4x presentasi dihadapan tim dosen – nilai setiap seri presentasi harus lebih tinggi (progressing) dibanding sebelumnya. Pada proses ini, mahasiswa baru dibuat benar-benar keder, ciut nyali, dan hampir “give up”. Saya mendapat informasi dari mahasiswa senior bahwa mereka menangis, kehilangan suara, ingin keluar dari diskusi, dan menganggap Lab. PSP (tempat diskusi) sebagai lokasi angker. Saya tahu ada satu mahasiswa yang bahkan harus masuk rumah sakit (typhoid) karena mempersiapkan presentasi.

Pada tanggal 3 Maret, tim membuat keputusan bahwa 14 proposal PKM-MABA ini dinyatakan layak untuk dikirim ke ajang Rektor Cup 2014. Hari berikutnya (4 Maret), Dekanat mengundang seluruh kelompok dalam suatu acara “motivasi PKM-MABA 2014”. Salah satu kelompok dipilih untuk menyajikan persiapannya di depan pejabat Dekanat. Ketika memulai sambutan, Prof. Diana Arfiati, Dekan FPIK, sampai menitikkan air mata, melihat progress yang telah dicapai oleh kelompok. Secara bergilir pejabat memberi motivasi agar mengambil manfaat dari kegiatan karya tulis yang mereka ikuti.

Lomba PKM-MABA dimulai hari Sabtu dan berakhir Minggu (9 Maret) di Gedung FK-UB. Hasilnya, FPIK menyabet 3 dari 6 medali emas yang tersedia, 2 medali perak dan 1 perunggu – jika dihitung, FPIK menyabet 33% dari seluruh medali yang disediakan (Rektor Cup diikuti oleh 16 Fakultas di lingkungan UB). MABA-FPIK melakukan “victory lap” dengan mengarak piala umum di sepanjang jalan antara FP dan FPIK. Sehari kemudian, Dekanat FPIK memfasilitasi “pesta perayaan kecil” menyambut capaian tersebut – kantin FPIK segera dipenuhi oleh sekitar 50 orang mahasiswa berprestasi tersebut.

“Now, the party is over”. Namun kita perlu mencatat beberapa pembelajaran dari Rektor Cup 2014, sebagai berikut – pertama, FPIK belum melakukan persiapan secara terstruktur atau tersistem dalam mengikuti Rektor Cup 2014, dan ini diakui oleh Bapak Sukandar. Kedua, terkait jumlah mahasiswa yang banyak, kualitas INPUT mahasiswa FPIK diduga di bawah standar. Ketiga, jika ingin menghasilkan kualitas OUTPUT yang standar, FPIK harus mempersiapkan PROSES PBM yang berkualitas tinggi. Hal ini akan sulit dilakukan di FPIK, kecuali ada Revolusi Budaya dalam bidang PBM. Pertanyaannya, Rektor Cup 2014 bisa dianggap sebagai ajang prestasi, mengapa MABA-FPIK bisa menjadi juara umum? Saya membayangkan, jika semua Profesor di FPIK turun untuk menggodog PKM-MABA ini, bukan dosen-dosen muda yang belum banyak pengalaman, mungkin hasilnya akan berbeda. Ayo, turunlah prof., bikin mereka berprestasi lebih baik di PIMNAS 2014 dan Rektor Cup tahun depan (GW & VA)

Print Friendly